18 Mar 2015

URBAN LEGEND : MY BROTHER PLAYING DOLL? IMPOSSIBLE!

Hahaha...
Suara tawa ditengah malam itu membangunkanku. Suaranya seperti suara adik laki-laki kecilku yang berumur 3,5 tahun. Malam-malam begini dia masih terjaga? Aneh. Aku harus mengeceknya. Karena ayah dan ibuku malam ini sedang menginap di rumah nenekku dikarenakan nenekku sakit keras disana. Aku harus menjaga rumah serta adikku juga. Maka dari itu aku harus mengeceknya!

Krieekk..
Aku membuka pintu kamarnya. Terlihat dirinya sedang duduk di lantai sambil bermain boneka dengan diterangi oleh cahaya rembulan malam itu yang merembes masuk ke kamarnya. Tunggu sebentar. Boneka? Apa aku tidak salah lihat? Adikku sangat membenci boneka! Aku pun menghampirinya.

"Ray, kau belum tidur?"

"Belum. Aku belum mengantuk"

"Sebaiknya kau tidur, Ray. Ini sudah larut malam. Sudah waktunya anak kecil sepertimu tidur jam segini" nasihatku lembut sambil membelai rambutnya. Rambutnya sedikit kasar.

"Aku bilang aku belum mengantuk"

"Oke, tapi apa itu yang kau mainkan? Boneka? Bukankah kau bilang boneka itu mainan anak perempuan? Dan kau juga sangat membenci boneka?"

"Yeah, Ray memang membenci boneka. Tapi aku sangat suka bermain boneka!"

Adik kecilku menoleh. Bukan, lebih tepatnya anak kecil tersebut. Ia menoleh. Menyeringai kearahku. Menunjukkan giginya yang tajam dan kuning. Serta menampakkan wajahnya yang menyeramkan. Terdapat sebuah goresan di dahinya dan sebuah luka jahit di telinga kanannya. Bola matanya besar sebelah dan kulit kepala di bagian depannya terkulai lemas ke dahinya yang tergores.

Di hadapannya terdapat boneka anak laki laki yang kepalanya copot. Terlihat seperti mayat anak kecil menurutku. Hey, ada apa itu di hidungnya. Tahi lalat. Oh god! Itu memang mayat! Mayat adikku yang dijadikan boneka.

"Ehehe...kurasa aku sudah bosan bermain dengan boneka kecil ini. Aku ingin mempunyai boneka besar. Sepertinya mengasyikkan, ya?" kekehnya sambil mengacungkan sebuah pisau dihadapanku.

"HAHAHAHA...siapa lagi selanjutnya? Kau? Atau kalian?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar